Pendidikan Luar Sekolah
You Can, If you Believe
Selasa, 16 Juni 2015
Minggu, 07 Juni 2015
Pembelajaran Berbasis WEB (E-Learning)
Nama :
Dilla Ideharmida
NIM :
1304838
Prodi :
Pendidikan Luar Sekolah
Mata Kuliah : Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam PLS
Pertemuan ke-13 dan 14
Lihat dalam bentuk Microsoft Word dan Power Point
Pembelajaran
Berbasis Web (E-Learning)
A. Konsep
Pembelajaran berbasis Web
Pembelajaran berbasis web merupakan suatu kegiatan
pembelajaran yang memanfaatkan media situs yang bisa di akses melalui jaringan
internet yang merupakan salah satu jenis penerapan dari pembelajaran elektronik
( e-learning).
E-learning
memiliki karakteristik-karkteristik sebagai berikut :
- Interactivity ( interaktivitas )
- Independency ( kemandirian )
- Accessibility ( aksesibilitas )
- Enrichmen ( pengayaan )
B. Fungsi dan
manfaat pembelajaran berbasis web
Siahaan menyebutkan, 3 (tiga) fungsi e-learning
terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu
sebagai suplemen yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau
pengganti (substitusi).
a.
Suplemen. Dikatakan berfungsi sebagai
suplemen (tambahan), apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah
akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini,
tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi
pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang
memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.
b.
Komplemen (pelengkap). Dikatakan
berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi pembelajaran elektronik
diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam
kelas (Lewis, 2002). Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik
diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) atau remedial bagi
peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. Materi
pembelajaran elektronik dikatakan sebagai enrichment, apabila kepada peserta
didik dapat dengan cepat menguasai/memahami materi pelajaran yang disampaikan
guru secara tatap muka (fast learners) diberikan kesempatan untuk mengakses
materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dikembangkan untuk
mereka.
c.
Substitusi (pengganti). Dikatakan
substantif karena pembelajaran e-learning sudah menggantikan tatap muka antara
guru dan siswa. E-learning yang fungsinya substantif ini merupakan satu-satunya
model yang digunakan dalam proses pembelajaran.
C. Memilih
pembelajaran berbasis web
Dalam memilih pembelajaran berbasis
web, berlu diperhatikan terlebih dahulu :
1.
Tujuan pembelajaran.
2.
Kompetensi yang hendak dicapai siswa dalam
pembelajaran.
3.
Kapasistas dalam menggunakan e-learning atau web.
4.
Kemampuan peserta didik dalam menggunakan internet dan
aplikasi terkait.
5.
Kemampuan dan keahlian guru dalam menggunakan web dan
e-learning.
D. Kelebihan
dan kekurangan pembelajaran berbasis web
Kelebihan
Pembelajaran Berbasis WEB
1. Memungkinkan
setiap orang dimanapun, kapanpun, untuk mempelajari apapun.
2. Pebelajar
dapat belajar sesuai dengan karaktristik dan langkahnya dirinya sendiri karen
apembelajaran berbasis web membuat pembela-jaran menjadi bersifat individual.
3. Kemampuan
untuk membuat tautan (link), sehingga pebelajar dapat mengakses
informasi dari berbagai sumber, baik di dalam maupun luar lingkungan belajar.
4. Sangat
potensial sebagai sumber belajar bagi pebelajar yang tidak memiliki cukup waktu
untuk belajar.
5. Dapat
mendorong pebelajar lebih aktif dan mandiri di dalam belajar.
6. Menyediakan
sumber belajar tambahan yang dapat digunakan untuk memperkaya materi
pemeblajaran.
7. Menyediakan
mesin pencari yang dapat digunakan untuk mencari informasi yang mereka
butuhkan.
8. Isi
materi pelajaran dapat di-update dengan mudah.
Kekurangan Pembelajaran
Berbasis WEB
1. Keberhasilan
pembelajaran berbasis web tergantung paa kemandirian dan motivasi pembelajar.
2. Akses
untuk mengikuti pembelajaran dengan menggunakan web seringkali menjadi masalah
bagi pembelajar.
3. Pembelajar
dapat cepat merasa bosan dan jenuh jika mereka tidak dapat mengakses informasi,
dikarenakan tidak terdapat peralatan yang memadai dan bandwidth yang
cukup.
4. Dibutuhkannya
panduan bagi pembelajar untuk mencari informasi yang elevan, karena informasi
yang terdapat di dalam web sangat beragam.
5. Dengan
menggunakan pembelajaran berbasis web, pembelajar terkadang merasa terisolasi,
terutama jika terdapat keterbatasan dalam fasilitas komunikasi.
E. Metode
Blended Learning dan Pembelajaran Berbasis web
Sebagaimana yang diketahui blended learning adalah pendekatan
pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran tradisonal tatap muka dan
pembelajaran jarak jauh yang menggunakan sumber belajar online dan beragam
pilihan komunikasi yang dapat digunakan oleh guru dan siswa. Dengan kata lain
dalam penerapan pendekatan blended learning dalam proses pembelajaran maka
pembelajaran menggunakan e-learning dapat mendukung proses pembelajaran.
Pembelajaran berbasis web membantu siswa untuk mencari
bahan dan informasi tentang materi yang dipelajarinya. Tujuan antara blended
learning dan pembelajaran berbasis web sama-sama membantu siswa belaar mandiri
dengan memanfaatkan internet sebagi media dan sumber belajar. Jadi dalam
penerapan strategi dan pendekatan blended learning dalam pembelajaran proses
tatap muka dan penggunaan media web sebagai bagian belajar jarak jauh antara
siswa dan guru membantu mempermudah penerapan blended learning.
F. Prinsip-prinsip
pembelajaran berbasis web
Menurut
Rusman (2011) prinsip pembelajaran berbasis web adalah:
1.
Interaksi, berarti kapasitas komunikasi dengan orang
lain yang tertarik pada topik yang sama atau menggunakan pembelajaran berbasis
web yang sama. Dalam lingkungan belajar, interaksi berarti kapasitas berbicara
baik antarpeserta, maupun antara peserta dengan instruktur. Interaksi
membedakan antara pembelajaran berbasis web dengan pembelajaran berbasis
komputer (Computer-Based Instruction). Hal ini berarti bahwa mereka yang
terlibat dalam pembelajaran berbasis web tidak berkomunikasi dengan mesin,
melainkan dengan orang lain (baik peserta maupun tutor) yang kemungkinan tidak
berada pada lokasi bahkan waktu yang sama. Interaksi tidak hanya menyediakan
hubungan antarmanusia, tetapi uga menyediakan keterhubungan isi, di mana setiap
orang dapat saling membantu antara satu dengan yang lainnya untuk memahami isi
materi dengan berkomunikasi. Hal tersebut menciptakan lapisan belajar ter¬dalam
yang tidak bisa diciptakan oleh pengembangan media.
2.
Ketergunaan, yang dimaksud di sini adalah bagaimana
siswa mudah menggunakan web. Terdapat dua elemen penting dalam prinsip
keter¬gunaan ini, yaitu konsistensi dan kesederhanaan. Intinya adalah bagaimana
pengembang pembelajaran berbasis web ini menciptakan lingkungan belajar yang
konsisten dan sederhana, sehingga siswa tidak mengalami kesulitan balk dalam
proses pembelajaran maupun navigasi konten (materi dan aktivitas belajar lain).
3.
Relevansi, diperoleh melalui ketepatan dan kemudahan.
Setiap informasi dalam web hendaknya dibuat sangat spesifik untuk meningkat¬kan
pemahaman pembelajar dan menghindari bias. Menempatkan konten yang relevan
dalam konteks yang tepat pada waktu yang tepat adalah bentuk seni tersendiri,
dan sedikit pengembangan e-learning yang berhasil melakukan kombinasi ini. Hal
ini melibatkan aspek keefektifan desain konten serta kedinamisan pencarian dan
penempatan konten (materi).
G. Pemanfaatan
internet dalam pembelajaran
Internet untuk menunjang peningkatan peningkatan kualitas pembelajaran yang
dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan
komunikasi antara peserta didik dengan pengajar, sesama peserta didik, anggota
kelompok, atau peserta didik dengan nara sumber lain. Beberapa hal yang perlu
menjadi pertimbangan dalam memanfaatkan e-learning, sebagaimana para ahli
pendidikan dan internet menyarankan hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum
seseorang memilih internet untuk kegiatan pembelajaran (Bullen, 2001; Hartanto
dan Purbo, 2002; Soekartawi et.al, 1999; Yusup Hashim dan Razmah, 2001) antara
lain: (1) Analisis Kebutuhan (Need Analysis), (2) Rancangan Instruksional, (3)
Tahap Pengembangan, (4) Pelaksanaan, (5) Evaluasi. Adapun masalah-masalah yang
sering dihadapi perlu diperhatikan juga, misalnya: (1) Masalah akses untuk bisa
melaksanakan e-learning seperti ketersediaan jaringan internet, listrik,
telepon dan infrastruktur yang lain. (2) Masalah ketersediaan software (piranti
lunak). Bagaimana mengusahakan piranti lunak yang tidak mahal. (3) Masalah
dampaknya terhadap kurikulum yang ada. (4) Masalah skill and knowledge. (5)
Attitude terhadap ICT.
H. Internet
sebagai sumber belajar
Internet berperan penting dalam proses pembelajaran menggunakan E-learning,
mengingat jaringan internet sangat berperan penting dalam penerapan e-learning.
Internet
sebagai sumber selajar menyediakan bahan ajar yang berhubungan dengan materi
yang akan dipelajari oleh peserta didik. Internet menjadi media komunikasi dan
menyedia materi dan sebagai sumber belajar.
Menurut McManus dalam Herman Dwi Surjono (1999) ternyata jaringan internet
bukanlah semata-mata suatu media, tetapi lebih dari itu juga merupakan pemberi
materi dan sekaligus materinya.
I. Interaksi
tatap muka dan virtual
1. E
learning merupakan penyampaiaan informasi, komunikasi,pendidikan,pelatihan
secara on line
2. E
learning menyediakan seperangkat alat yang dapt memperkaya nilai belajar secara
konvensional
3. Kapasitas
siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk isi dan cara penyampaiaan
J. Teknologi
pendukung E-Learning
Synchronous System Aplikasi yang berjalan secara waktu
nyata dimana seluruh pemakai bisa berkomunikasi pada waktu yang sama,
contohnya: chatting dan
Video Conference.
Asynchronous System Aplikasi yang tidak bergantung pada
waktu dimana seluruh pemakai bisa mengakses ke sistem dan melakukan komunikasi
antar mereka disesuaikan dengan waktunya masing-masing, contohnya: BBS, e-mail,
dsb
Technology based learning ini pada prinsipnya
terdiri dari Audio Information Technologies (radio, audio tape, voice mail
telephone) dan Video Information Technologies (video tape, video text, video
messaging). Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah Data
Information Technologies (bulletin board, Internet, e-mail,
tele-collaboration).
Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang
sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi yang dituliskan di atas
(audio/data, video/data, audio/video). Teknologi ini juga sering di pakai pada
pendidikan jarak jauh (distance education), dimasudkan agar komunikasi antara
guru dan peserta didik bisa terjadi dengan keunggulan teknologi e-learning ini.
Penyampaiaan materi e-learning juga dapat melalui
synchronous atau asynchronous. Synchronous berarti guru atau dosen dan peserta
didik berinteraksi secara waktu nyata. Ini bisa ditempuh dengan menggunakan
teknologi semacam videoconferences, audiocenferencing, internet chat, dan
desktop video conferencing.
Penyampaian materi dengan synchronous tidak secara
bersamaan. Guru atau Dosen menyampaikan intruksi melalui video atau komputer,
kemudian peserta didik merespon pada lain waktu. Bisa juga, intruksi disampakan
melalui web atau feedback disampaikan melalui e-mail. Meskipun teknologi
mempunyai peranan penting dalam penyampaian materi, namun guru mesti tetap
fokus pada apa yang disampaikan bukan pada teknologi penyampaiannya. Sebab
kunci e-learning yang efektif adalah harus fokus pada kebutuhan peserta didik,
kebutuhan materi dan hambatan-hambatan yang dihadapi guru sebelum menggunakan
peralatan teknologi informasi.
Sistem e-learning mau tidak mau dapat mengadopsi
sistem-sistem yang sudah ada pada sekolah konvensional ke dalam bentuk sistem
digital dan internet dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian teknis yang
diperlukan. E-learning bisa diibaratkan sebagai hasil cangkokan dari sebuah
sistem pendidikan konvensional dan masih merupakan sebuah eksprerimen. Artinya.
Sebuah cangkokan baru akan dapat berkembang dengan baik melalui suatu proses
penyesuaian dengan lingkungannya yang baru dan akan berkembang secar akontinu
dan suatu saat akan setara dan sejajar dengan sekolah konvensional.
K. Pengembangan
Model E-Learning
Pengembangan Model E-Learning dalam Pembelajaran Imam Mawardi Pengembangan
model e-learning merupakan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Dalam hal
ini Rosenberg (2001) mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam
e-learning, yaitu: (a). E-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu
memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan,
dan sharing pembelajaran dan informasi. Persyaratan ini sangat penting sehingga
dikatakan sebagai persyaratan absolut. (2) e-learning dikirimkan kepada
pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. CD
ROM, Web TV, Web Cell Phones, Pagers, dan alat bantu digital personal lainnya
walaupun bisa menyiapkan pesan pembelajaran tetapi tidak bisa digolongkan
sebagai e-learning. (3) e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang
paling luas, solusi pembelajaran yang mengungguli paradigma tradisional dalam
pelatihan.
Dalam pengembangan model e-learning perlu rancangan yang sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang diinginkan, khususnya dalam penggunaan internet.
Menurut Haughey (Anwas, 2000) ada tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem
pembelajaran berbasis internet, yaitu web course, web centric course, dan web
enhanced course. Web course adalah
penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan
pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh
bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan
pembelajaran lainnya sepenuhnya disamapaikan melalui internet. Dengan kata lain
model ini menggunakan sistem jarak jauh. Web
centric course adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar
jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampaikan melalui
internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Dalam model ini pengajar bisa
memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web
yang telah dibuatnya. Siswa juga diberi arahan untuk mencari sumber lain dari
situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih
banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet.
Sedang model ketiga, web enhanced course adalah
pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan peningkatan kualitas
pembelajaran yang dilakukan di kelas.
Felix Modritscher (2006) menemukan
bahwa setiap strategi e-learning mengikuti satu dari beberapa teori
belajar. Teori behaviorisme, kognitivisme, dan konstuktivisme dapat dijadikan
landasan bagi pembelajaran online khususnya untuk pembelajaran orang dewasa.
Untuk menerapkan strategi e-learning, disarankan untuk menganalisis
karakterisitk peserta didik, mengidentifikasi motivasi dan kemampuan awal,
untuk mengantisipasi siswa dari kegagalan dalam menyelesaikan studi.
Pengembangan multimedia
pembelajaran berbasis web, setidaknya akan melibatkan beberapa landasan teori,
yaitu teori belajar (behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme),
teori sistem, teori komunikasi, dan teori desain instruksional (Davidson &
Rasmusen, 2006: 39).
1)
Teori belajar
Teori belajar behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme melandasi
pengembangan desain pembelajaran berbasis web. Teori behaviorisme menjadi
rujukan dalam mengembangkan desain pembelajaran khususnya dalam bentuk
pemberian umpan balik dalam latihan soal dan petunjuk praktis dalam
tugas. Teori kognitivisme menjadi acuan dalam mengembangkan dan
mengorganisasi materi serta aktivitas pembelajaran. Mengacu pada teori
kognitivisme, maka materi dan aktivitas pembelajaran didesain agar
pembelajaran memiliki makna bagi diri peserta didik, dan menumbuhkan partisipasi
aktif dalam proses pembelajaran. Teori konstruktivisme menjadi inspirasi dalam
mengembangkan bahan ajar, tugas dan diskusi agar mengandung muatan-muatan yang
bersifat kontekstual dan memberikan pengalaman belajar peserta didik.
Konstruktivisme sebagai cabang dari psikologi kognitif memberikan pengaruh
besar terhadap cara berfikir para desainer pembelajaran (Walter Dick, dkk,
2005: 4).
Menurut Bransford dalam Felix Modritscher (2006), terdapat empat faktor
yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran secara signifikan, yaitu: (1)
attention, (2) motivation, (3) emotions, and (4) experiences of the learner.
Pengembangan e-learning perlu mempertimbangkan proses kognitif seperti
seleksi informasi kedalam memori sensor, integrasi dan organisasi informasi
dengan membangun koneksi dalam short-term memory, serta mengolahnya
melalui pengiriman ke dalam long-term memory.
Membangun motivasi merupakan hal penting untuk merangsang belajar dengan
cara guru menjelaskan proses belajar yang akan dijalankan. Aspek motivasi
dalam e-learning juga dapat dipengaruhi oleh learning content,
kejelasan relevansi pembelajaran, atau melibatkan elemen interaktif seperti
game dan simulasi.
Emosi, seperti halnya motivasi berpengaruh besar dalam proses belajar.
Mengarahkan emosi siswa pada aspek yang tepat dapat menjadi kunci proses
kognitif untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek mupun jangka
panjang. Dalam e-learning, peningkatan kualitas pembelajaran dapat
diwujudkan melalui emosi dengan storytelling, empathy, provocations,
emotional figures, animations, dan juga kerja kelompok. Transfer
pengetahuan dapat ditingkatkan jika mampu membentuk pengalaman belajar siswa
dengan cara menghubungkan pengetahuan awal yang berbeda ke dalam domain yang
sama atau konteks yang sejenis.
2)
Teori sistem
Pembelajaran berbasis web merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa
komponen, yaitu tujuan pembelajaran, materi, gambar, animasi, navigasi, tugas,
diskusi, dan lain-lain. Oleh karena itu, agar pembelajaran dapat berlangsung
efektif perlu didesain mengikuti teori sistem, dimana sebuah sistem harus
disusun secara sistematis dan sistemik. Dalam hal ini pengorganisasian dan
penyajian materi disusun secara sistematis menurut urutan konsep yang logis.
Urutan penyajian komponen pembelajaran juga didesain secara sistematis mulai
dari sajian tujuan pembelajaran, materi ajar, latihan, diskusi, dan tugas.
3)
Teori
komunikasi
Teori komunikasi terkait dengan proses pengiriman pesan pembelajaran dari
pendidikan kepada peserta didik, agar berlangsung secara efektif. Untuk
membangun efektivitas transformasi pesan yang berisi pengetahuan maupun
nilai-nilai, maka tampilan pesan yang disajikan harus baik, komunikatif, dan
menarik. Oleh karena itu teori komunikasi menjadi dasar dalam mengemas pesan
pembelajaran, tampilan gambar dan animasi, serta perancangan interface.
4)
Teori desain
instruksional
Menurut teori desain instruksional (Walter Dick, dkk, 2005: 188), dalam
mengembangkan strategi pembelajaran harus dilakukan content sequence and
clustering. Terdapat lima faktor yang perlu dipetimbangkan dalam meng-cluster
bahan ajar. Faktor-faktor tesebut meliputi tingkatan umur peserta didik,
kompleksitas materi, tipe media yang digunakan, aktivitas belajar siswa, dan
waktu yang tersedia.
L. Kelebihan
dan Kekurangan E-Learning
Kelebihan e-learning adalah :
·
Kegiatan pembelajaran bisa dilakuka kapan dan dimana
saja asalkan ada akses internet.
·
Tidak membutuhkan ruang khusus untuk tatap muka dan
mempersingkat waktu pembelajaran dan hemat biaya.
·
Kehadiran dan penilaian dapat dengan mudah dinilai
dari aktifitas siswa dalam kegiatan e-learning.
·
Pada pembelajaran e-learning siswa dituntut lebih
aktif karena penilaian didasarkan pada partisipasi diforum e-learning.
·
Meningkatkan kemampuan belajar mandiri, dan siswa
tidak hanya b ergantung pada pendidik.
·
Mudah berkomunikasi dan berbagi bahan ajar.
·
Materi belajar mudah diakses dan dimiliki setiap warga
belajar
·
Meningkatkan kemampuan siswa dalam memanfaatkan
teknologi informasi dan komunikasi.
Kekurangan e-learning sebagai berikut :
-
Sulit menghitung etos belajar masing-masing siswa,
karena jika ada yang malas tentu akan tertinggal dalam proses belajar.
-
Kesulitan akan datang apabila akses internet
terganggu.
-
Hanya pembelajaran tertentu yang dapat digunakan
e-learning, apabila pembelajaran membutuhkan praktik maka akan sulit
menggunakan e-learning.
-
Masih adanya daerah diindonesia yang tidak memiliki
akses internet.
-
Biaya dan membutuhkan sarana belajar yang cukup besar.
-
Menurunnya kemampuan sosial karena terbiasa
menggunakan interaksi didunia maya (komunikasi virtual).
Sumber :
Langganan:
Postingan (Atom)